Jumat, 24 November 2017

AMTSILATI MAIS



 PERKEMBANGAN AMTSILATI MAIS




Membaca kitab kuning bukanlah suatu hal yang mudah. Biasanya butuh kurun waktu yang cukup lama untuk bisa memahaminya. Yaitu sekitar 6-10 tahun. Itu pun jika bersungguh-sungguh dalam mempelajarinya. Karena dalam kitab kuning tersebut disamping bahasanya menggunakan bahasa arab juga tulisannya tanpa menggunakan harakat sama sekali bisa membuat para pembaca kesulitan untuk membacanya. Salah dalam memberi harakat dalam membaca kitab kuning tersebut, maka akan berakibat fatal dalam memahami maknanya. Sangat jauh berbeda dengan kita membaca buku yang lain. Ditulis dengan tulisan latin yang akan mempermudah dalam membaca dan memahaminya. Namun mempelajari kitab kuning merupakan salah satu dari ciri khas santri di pondok pesantren manapun. Karena sumber utama dalam kitab kuning adalah al-qur’an, firman Allah swt. Yang diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui malaikat jibril yang sudah di jamin kebenarannya. Tidak heran jika para ulama’ salaf, menafsiri sekaligus mengembangkan isi dari Al-qur’an yang berbentuk kitab kuning. Seperti kitab tafsir jalalain yang menafsiri Al-qur’an, kitab fathul qorib yang menjelaskan tentang fikih atau hokum-hukum islam yang sesuai dengat syariat dan juga kitab kuning yang lain tanpa disebutkan satu persatu. Karena saking banyaknya. Tidak rugi jika kita mempelajari kitab kuning tersebut.
Dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi di era sekarang. Apapun bisa disulap sedemikian rupa. Segala sesuatu yang awalnya rumit, sulit, berbelit-belit, tidak efektif dan efisien waktu dan tempat, kini telah berbalik 180 derajat menjadi singkat, padat, jelas, dan mudah. Untuk bisa membaca dan memahami kitab kuning awalnya membutuhkan waktu 6-10 tahun, sekarang menjadi 6-10 bulan sudah bisa dalam membaca dan memahaminya. Waaaaah…cepet banget kan……??? Bagaimana caranya ? salah satu cara yang diterapkan di Pondok Pesantren Islamiyah Syafi’iyah ini adalah menggunakan metode Amtsilati. yaitu cara cepat dalam mempelajari kitab kuning. Sehingga bisa membaca dan memahami isi yang terkandung didalamnya. Metode Amtsilati ini berasal dari Jepara Jawa Tengah, yang di tulis oleh KH. Taufikul Hakim tahun 2001. Beliau juga perintis pertama dan pengasuh pertama di Jepara. Dan sekarang Amtsilati ini sudah banyak digunakan oleh pesantren-pesantren di Nusantara. PP. islamiyah Syafi’iyah ini menggunakan metode amtsilati sejak tahun 2012. Dengan mendatangkan guru tugas dari jepara langsung. Beliau bernama Ust. Syaifuddin yang dikenal dengan sebutan ust. Syaif. Tujuannya untuk memberikan bimbingan tentang bagaimana mempelajari kitab kuning dengan mudah dan cepat menggunakan metode amtsilati yang telah beliau dapatkan selama menuntut ilmu di Jepara atau di pusat Amtsilati. Alhamdulillah berkat perjuangan bermodalkan totalitas, loyalitas, dan komitmen yang tinggi, beliau berhasil menyukseskan bahkan sampai mewisuda santri yang ikut program amtsilati di Pondok Pesantren Islamiyah Syafi’iyah. Meskipun wisuda pertama hanya 3 orang dan itu pun masih ikut wisuda gabungan di Probolinggo, namun tidak menyurutkan semangat beliau untuk tetap berkontribusi aktif dalam membina santri untuk mempelajari Amtsilati. Karena 3 orang tersebut berhasil meraih juara cerdas cermat amtsilati tingkat kabupaten di Probolinggo dan pastinya mereka telah mengharumkan nama pondok. Sejak itulah PPIS (Pondok Pesantren Islamiyah Syafi’iyah) di jadikan sebagai pusat Amtsilati di daerah Probolinggo dan dijadikan sebagai titik acuan untuk pengguna amtsilati di wilayah Probolinggo. Ust. Syaif berkeyakinan bahwa dengan 3 santri ini akan menjadi 30 santri bahkan sampai 300 santri yang akan wisuda dan paham terhadap kitab kuning.
 Tahun berikutnya, sudah tidak ikut wisuda gabungan lagi. Namun mengadakan wisuda sendiri di PPIS. Dengan jumlah peserta wisuda 27 santri putra dan putri. Wisuda ini dikenal dengan WISUDA KE-1 di Pondok Pesantren Islamiyah Syafi’iyah tahun 2014 yang dibina sendiri oleh ust. Syaif. Wisuda ke-2 tahun 2015 sebanyak 38 santri. Wisuda ke-3 sebanyak 47 santri. Dan wisuda ke-4 tahun 2017 sudah diikuti 57 santri. Jadi setiap tahunnya selalu ada peningkatan. Dalam memberikan pembinaan amtsilati pada wisuda berikutnya beliau tidak sendirian. Akan tetapi dibantu oleh santri yang telah di wisuda pada periode sebelumnya. Setiap ada ajang perlombaan baca kitab, PPIS selalu mendelegasikan santrinya. Baik itu dari tingkat lokal, maupun interlokal.
Diantaranya :
1.      Juara harappan 2 baca kitab safinatun najah tingkat kabupaten probolinggo dan lumajang (putra)
2.      Juara harappan 2 baca kitab safinatun najah tingkat kabupaten probolinggo dan lumajang (putri)
3.      Juara 2 baca kitab safinatun najah tingkat 2 kabupaten (Probolinggo dan Situbondo)
4.      Juara 2 cerdas cermat tingkat kabupaten

Tidak ada komentar:

Posting Komentar