PERKEMBANGAN AMTSILATI MAIS
Membaca kitab kuning bukanlah suatu
hal yang mudah. Biasanya butuh kurun waktu yang cukup lama untuk bisa
memahaminya. Yaitu sekitar 6-10 tahun. Itu pun jika bersungguh-sungguh dalam
mempelajarinya. Karena dalam kitab kuning tersebut disamping bahasanya
menggunakan bahasa arab juga tulisannya tanpa menggunakan harakat sama sekali
bisa membuat para pembaca kesulitan untuk membacanya. Salah dalam memberi
harakat dalam membaca kitab kuning tersebut, maka akan berakibat fatal dalam
memahami maknanya. Sangat jauh berbeda dengan kita membaca buku yang lain.
Ditulis dengan tulisan latin yang akan mempermudah dalam membaca dan
memahaminya. Namun mempelajari kitab kuning merupakan salah satu dari ciri khas
santri di pondok pesantren manapun. Karena sumber utama dalam kitab kuning
adalah al-qur’an, firman Allah swt. Yang diturunkan kepada Nabi Muhammad
melalui malaikat jibril yang sudah di jamin kebenarannya. Tidak heran jika para
ulama’ salaf, menafsiri sekaligus mengembangkan isi dari Al-qur’an yang
berbentuk kitab kuning. Seperti kitab tafsir jalalain yang menafsiri Al-qur’an,
kitab fathul qorib yang menjelaskan tentang fikih atau hokum-hukum islam yang
sesuai dengat syariat dan juga kitab kuning yang lain tanpa disebutkan satu
persatu. Karena saking banyaknya. Tidak rugi jika kita mempelajari kitab kuning
tersebut.
Dengan semakin berkembangnya ilmu
pengetahuan dan teknologi di era sekarang. Apapun bisa disulap sedemikian rupa.
Segala sesuatu yang awalnya rumit, sulit, berbelit-belit, tidak efektif dan efisien
waktu dan tempat, kini telah berbalik 180 derajat menjadi singkat, padat,
jelas, dan mudah. Untuk bisa membaca dan memahami kitab kuning awalnya
membutuhkan waktu 6-10 tahun, sekarang menjadi 6-10 bulan sudah bisa dalam
membaca dan memahaminya. Waaaaah…cepet banget kan……??? Bagaimana caranya ?
salah satu cara yang diterapkan di Pondok Pesantren Islamiyah Syafi’iyah ini
adalah menggunakan metode Amtsilati. yaitu cara cepat dalam mempelajari kitab
kuning. Sehingga bisa membaca dan memahami isi yang terkandung didalamnya.
Metode Amtsilati ini berasal dari Jepara Jawa Tengah, yang di tulis oleh KH.
Taufikul Hakim tahun 2001. Beliau juga perintis pertama dan pengasuh pertama di
Jepara. Dan sekarang Amtsilati ini sudah banyak digunakan oleh
pesantren-pesantren di Nusantara. PP. islamiyah Syafi’iyah ini menggunakan
metode amtsilati sejak tahun 2012. Dengan mendatangkan guru tugas dari jepara
langsung. Beliau bernama Ust. Syaifuddin yang dikenal dengan sebutan ust.
Syaif. Tujuannya untuk memberikan bimbingan tentang bagaimana mempelajari kitab
kuning dengan mudah dan cepat menggunakan metode amtsilati yang telah beliau
dapatkan selama menuntut ilmu di Jepara atau di pusat Amtsilati. Alhamdulillah
berkat perjuangan bermodalkan totalitas, loyalitas, dan komitmen yang tinggi,
beliau berhasil menyukseskan bahkan sampai mewisuda santri yang ikut program
amtsilati di Pondok Pesantren Islamiyah Syafi’iyah. Meskipun wisuda pertama
hanya 3 orang dan itu pun masih ikut wisuda gabungan di Probolinggo, namun
tidak menyurutkan semangat beliau untuk tetap berkontribusi aktif dalam membina
santri untuk mempelajari Amtsilati. Karena 3 orang tersebut berhasil meraih
juara cerdas cermat amtsilati tingkat kabupaten di Probolinggo dan pastinya
mereka telah mengharumkan nama pondok. Sejak itulah PPIS (Pondok Pesantren
Islamiyah Syafi’iyah) di jadikan sebagai pusat Amtsilati di daerah Probolinggo
dan dijadikan sebagai titik acuan untuk pengguna amtsilati di wilayah
Probolinggo. Ust. Syaif berkeyakinan bahwa dengan 3 santri ini akan menjadi 30
santri bahkan sampai 300 santri yang akan wisuda dan paham terhadap kitab
kuning.
Tahun berikutnya, sudah tidak ikut wisuda
gabungan lagi. Namun mengadakan wisuda sendiri di PPIS. Dengan jumlah peserta
wisuda 27 santri putra dan putri. Wisuda ini dikenal dengan WISUDA KE-1 di
Pondok Pesantren Islamiyah Syafi’iyah tahun 2014 yang dibina sendiri oleh ust.
Syaif. Wisuda ke-2 tahun 2015 sebanyak 38 santri. Wisuda ke-3 sebanyak 47
santri. Dan wisuda ke-4 tahun 2017 sudah diikuti 57 santri. Jadi setiap
tahunnya selalu ada peningkatan. Dalam memberikan pembinaan amtsilati pada
wisuda berikutnya beliau tidak sendirian. Akan tetapi dibantu oleh santri yang
telah di wisuda pada periode sebelumnya. Setiap ada ajang perlombaan baca kitab,
PPIS selalu mendelegasikan santrinya. Baik itu dari tingkat lokal, maupun
interlokal.
Diantaranya :
1.
Juara harappan 2 baca kitab
safinatun najah tingkat kabupaten probolinggo dan lumajang (putra)
2.
Juara harappan 2 baca kitab
safinatun najah tingkat kabupaten probolinggo dan lumajang (putri)
3.
Juara 2 baca kitab
safinatun najah tingkat 2 kabupaten (Probolinggo dan Situbondo)
4.
Juara 2 cerdas cermat
tingkat kabupaten
Tidak ada komentar:
Posting Komentar